NATURE EDUCATION ARRAHMAN

Safe The Kids For Safe The Nation

Arsip untuk ‘Artikel’ Kategori

Ciri-ciri Si Kecil Jadi Korban Kekerasan

Ditulis oleh Small Fingers di/pada November 13, 2008

Bukan perkara gampang mendeteksi kekerasan pada anak. Namun dengan kejelian dan komunikasi terbuka, orang tua dengan mudah dapat melakukannya.

Kekerasan pada anak, menurut psikolog dari LPT UI (Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia), Muhammad Rizal, Psi, dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni kekerasan fisik (KF) dan kekerasan non-fisik (KNF). Kekerasan Fisik adalah tindakan yang bertujuan melukai, menyiksa menganiaya, atau memperlakukan anak secara kasar. Tindakan tersebut bisa dilakukan menggunakan anggota tubuh seperti tangan dan kaki, atau lewat bantuan alat-alat lain.

Menurut Ical, salah satu cara termudah untuk mendeteksi ada tidaknya kekerasan pada anak adalah dengan memonitor perilaku dan sikapnya. Cara ini sangat efektif mengingat kemampuan berkomunikasi anak batita sangat terbatas. Batita awal, contohnya, manalah bisa diharapkan mampu menuturkan kejadian buruk yang dialaminya dengan lancar, jelas, dan lengkap. Jadi, nyaris merupakan kesia-siaan bila orang tua ngotot mengorek pengalaman kekerasan yang dialami si anak batita. Terlebih bila benar anak menerima ancaman dari si pelaku.

Berikut beberapa tanda yang menurut Ical bisa dijadikan acuan bagi orang tua saat berusaha mendeteksi kekerasan pada anak:

* Agresif
Sikap agresif biasanya ditujukan anak kepada pelaku tindak kekerasan. Sikap agresif ini umumnya akan ditunjukkan saat anak merasa ada orang yang bisa melindungi dirinya. Saat ayah/ibu ada di rumah, anak langsung memukul atau melakukan tindakan agresif terhadap si pengasuh. Namun orang tua perlu hati-hati karena tidak semua sikap ini menunjukkan bahwa anak telah mengalami tindak kekerasan. Anak yang sedang dalam masa agresif, bisa saja ingin menunjukkan kepada orang tuanya mengenai sikap agresifnya.

* Cengeng
Cengeng atau rewel umumnya dilakukan saat anak kehilangan figur yang bisa melindunginya. Dalam situasi seperti itu anak merasa tidak aman. Contohnya, begitu ditinggal bekerja ibu-bapaknya, anak korban kekerasan akan selalu menangis meraung-raung. Lagi-lagi ciri ini juga tidaklah mutlak. Boleh jadi anak cengeng karena memang amat lengket dengan orang tuanya. Ia tidak ingin kehilangan atau jauh dari figur terdekatnya. Orang tua perlu mencek faktor-faktor lain untuk membuktikan ada tidaknya faktor kekerasan pada anak.

* Bersedih dan Depresi
Tindak kekerasan bisa membuat anak terpuruk pada kondisi depresi. Hal ini bisa dilihat dari sikap anak yang berubah drastis, semisal anak jadi memiliki gangguan tidur dan makan, tak jarang disertai penurunan berat badan secara mencolok dan menarik diri dari lingkungan yang menjadi sumber trauma. Sikapnya berubah menjadi pendiam serta anak terlihat kurang ekspresif.

Gali Informasi

Memang tidak semua ciri yang disebutkan di atas pasti merupakan akibat kekerasan yang dialami anak oleh orang terdekatnya. Untuk membuktikannya, orang tua perlu menggali informasi lebih dalam dari si anak dan pengasuh. Tanyakan kepada si anak terlebih dahulu, “Kok tangan kamu bengkak, Dek?”

Agar anak bisa menjawab dengan tenang, orang tua harus bisa mengupayakan tempat yang nyaman seperti di kamar tidur atau di luar rumah. Dalam kondisi demikian, anak biasanya akan menjawab pertanyaan itu dengan santai dan jujur. Meski mungkin anak akan memberikan jawaban dengan sedikit kata dan banyak isyarat tubuh tentang luka di tubuhnya.

Jika si anak sudah bisa menjawab pertanyaan, atau bahkan tidak bisa menjawab sama sekali, orang tua bisa mengorek informasi dari orang sekitar yang saat itu berada dekat dengan anak. Jika cara ini juga tidak berhasil, orang tua bisa menanyakan langsung pada si pengasuh. Bila perlu, berikan jaminan Anda tidak akan memecatnya jika ia mau berterus terang.

Dengan cara itu, diharapkan dia bisa menceritakan kejadian dengan sebenar-benarnya. Pengasuh yang baik pastinya akan berterus terang menceritakan peristiwa apa pun yang menimpa anak asuhnya. Ia tidak akan menutup-nutupi, bahkan langsung melaporkan saat majikannya datang. Misal, “Bu tadi Adek jatuh dari mainan kuda-kudaan. Tangannya lecet dan saya sudah menetesinya dengan obat luka.”

Saeful Imam

Sumber : NAKITA

Ditulis dalam Artikel | Leave a Comment »

Cerita Si “Kerbau” alias “Kebo”

Ditulis oleh Small Fingers di/pada April 20, 2008

Tulisan ini diambil dari ceramah Al Habib M. Rizieq Shihab, ketika mengisi sebuah majelis ta’lim di Masjid As-Syar’i.

Konon dahulu kala ada seekor kerbau yang hidup dengan anaknya.Berikut dialog induk kerbau dengan anaknya ketika terdengar suara adzan:

Anak : Mak, itu suara apa sih?

Induk : Itu suara adzan bo (panggilan anak kerbau).

Anak : Adzan itu apa mak?

Induk : Adzan itu seruan bagi orang muslim untuk melakukan sholat dengan cara2

yang telah ditentukan (sesuai syariat).

Anak : O…..gitu ya?

Kemudian dilihatnya ada bapak-bapak dengan memakai sarung, ibu-ibu memakai mukena berduyun-duyun pergi ke masjid untuk memenuhi panggilan sholat. Anak-anakpun tak ketinggalan. Mereka berlari-lari kecil menuju masjid. Anak kerbau bertanya lagi ke induknya:

Anak : Itu orang-orang pada mau kemana mak?

Induk : Ke masjid, sholat bo.

Anak : Kok kita ga sholat mak?

Induk : Kan kita kebo, jadi ga sholat.

Anak : O…iya ya.

(selesai)

Dari hikayat di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa orang yang mengaku muslim tetapi tidak sholat sama dengan…….(silahkan anda isi sendiri sesuai hikayat di atas, hehe…..). Jadi, hati-hati kalo suami atau istri anda tidak sholat, berarti selama ini anda hidup dengan…….(silahkan anda isi sendiri). Bagaimana dengan anda???

Ditulis dalam Artikel, Renungan | Bertanda: | Leave a Comment »

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM-BAGIAN III (Selesai)

Ditulis oleh Small Fingers di/pada April 19, 2008

Pandangan Terhadap Anak

Anak sebagai perhiasan dunia

—

  • Anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia yang akan menyenangkan hati orang tua.Sebagaimana firmanNya:
  • Artinya:”Harta benda dan anak-anak itu sebagai perhiasan hidup di dunia” (QS Al Kahfi ayat 46) Dan firmanNya: Artinya:”Wahai Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami (agar) istri kami dan anak cucu kami sebagai penyejuk pandangan mata”(QS Al-Furqon ayat 74)
  • Orangtua dapat merasakan kepuasan dan kesenangan atas kehadiran anak, bila pada dirinya masih eksis fitrah insaninya.
  • Keberadaan fitrah inisani merupakan ‘modal dasar’ terjaminnya perlindungan hak anak oleh keluarga. Eksisnya rasa sayang orangtua kepada anak dan keberadaan anak yang membawa kesenangan bagi orang tua akan membuat orang tua rela berkorban apa saja untuk memenuhi semua hak anak.

Anak sebagai jaminan bagi orangtua di hari kiamat

—

  • Orangtua yang telah bersusah payah membesarkan, memelihara dan mendidik anak-anaknya dengan sabar akan mendapat ganjaran yang sangat besar dari Allah SWT, yakni surga. Sebagaimana riwayat dari Auf bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan yang dinafkahinya dengan baik sampai mereka menikah atau meninggal dunia, maka anak-anak itu menjadi tabir baginya dari neraka.” (HR Al-Baihaqi)
  • Juga riwayat dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda:“Ada seorang hamba yang ditinggikan derajatnya. Lalu ia bertanya: Wahai Rabbku, mengapa derajat ini diberikan kepadaku? Allah berfirman: Sebab permohonan ampun anakmu untukmu sesudah meninggalmu”(HR Ahmad, Ibnu majah, dan Al-Baihaqi)

Anak sebagai aset masa depan umat

  • Islam mensyariatkan pernikahan bagi umatnya. Bahkan mencela orang-orang yang tidak mau menikah (tabattul). Islam juga menganjurkan agar laki-laki memilih calon istri dari kalangan yang wanita yang penyayang, subur, dan beragama. Sebab salah satu tujuan pernikahan adalah lahirnya anak-anak sebagai pewaris orangtuanya, baik pewaris harta maupun pewaris tanggung jawab dalam mengemban risalah Islam. Sebagaimana riwayat dari Anas ra, ia berkata: “Rasulullah saw menganjurkan para pemuda untuk kawin dan melarang keras untuk tabattul. Dan beliau bersabda:’Kawinlah kalian dengan wanita-wanita yang penyayang dan subur. Sesungguhnya dengan kalian saya ingin memperbanyak ummat di antara para nabi pada hari kiamat nanti.” (HR Imam Ahmad dan Abu Hakim)

  • “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah perempuan yang beragama, niscaya kamu akan beruntung”(HR Bukhari)

    Islam juga mensyariatkan untuk memperhatikan kualitas generasi penerusnya. Sebagaimana QS An-Nissa’ ayat 9:

  • Artinya:”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”
  • Dari hadist dan ayat di atas dapat dipahami bahwa ada tuntutan bagi kaum muslimin untuk menjamin kelestarian generasi masa depan dan mewujudkan generasi yang berkualitas baik. Generasi tersebut adalah generasi yang diridhoi oleh Allah SWT dan mampu memimpin manusia dengan risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Pihak-pihak Yang Bertanggung Jawab atas Pemenuhan Hak Anak

—

  • Orangtua dan anggota keluarga yang lain
  • Negara dengan membuat kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang membuat keluarga mampu memenuhi hak-hak anak dalam keluarga.
  • Masyarakat dengan ikut menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pemenuhan hak-hak anak, bukan malah menjadi pihak yang merampas hak-hak anak.

PERSIAPAN ANAK CERDAS

  1. Makanan yang tepat
  2. Lingkungan yang sesuai
  3. Pegalaman Emosional
  4. Stimulasi rasional yang tepat
  5. Aktivitas fisik yang sesuai

“ Tips “ Keluarga Qur’ani

v Banyak berdoa mohon kepada Alloh agar anak2 di bukakan hati & fikirannya menerima Al Quran

v Mulai dari contoh ortu yg gemar membaca & menghafal Al Qur’an

v Menjadikan waktu-waktu tertentu di rumah setiap hari untuk berinteraksi dengan Al Qur’an

v Tanamkan atau perkenalkan Al Qur’an sejak dini dengan memperhatikan tumbuh kembang anak

(selesai)

Ditulis dalam Artikel | Bertanda: , | 1 Komentar »

Berbaktilah pada Orang Tua selagi mereka masih ada …

Ditulis oleh Small Fingers di/pada April 12, 2008

Seorang lelaki tua yang baru ditinggal mati isterinya tinggal bersama anaknya, Arwan dan menantu perempuannya, Rina, serta cucunya, Viva yang baru berusia enam tahun. Keadaan lelaki tua itu sudah uzur, jari-jemarinya senantiasa gemetar dan pandangannya semakin hari semakin buram.

Malam pertama pindah ke rumah anaknya, mereka makan malam bersama. Lelaki tua itu merasa kurang nyaman menikmati hidangan di meja makan. Dia merasa amat canggung menggunakan sendok dan garpu. Selama ini dia gemar bersila, tapi di rumah anaknya dia tiada pilihan. Cukup sukar dirasakannya, sehingga seringkali makanan tersebut tumpah. Sebenarnya dia merasa malu seperti itu di depan anak menantu, tetapi dia gagal menahannya. Oleh karena kerap sekali dilirik menantu, selera makannyapun hilang. Dan tatkala dia memegang gelas minuman, pegangannya terlepas. Praaaaaannnnngggggg!! Bertaburanlah serpihan gelas di lantai.

Pak tua menjadi serba salah. Dia bangun, mencoba memungut serpihan gelas itu, tapi Arwan melarangnya. Rina cemberut, mukanya masam. Viva merasa kasihan melihat kakeknya, tapi dia hanya dapat melihat untuk kemudian meneruskan makannya.

“Esok ayah tak boleh makan bersama kita,” Viva mendengar ibunya berkata pada kakeknya, ketika kakeknya beranjak masuk ke dalam kamar. Arwan hanya membisu. Sempat anak kecil itu memandang tajam ke dalam mata ayahnya.

Demi memenuhi tuntutan Rina, Arwan membelikan sebuah meja kecil yang rendah, lalu diletakkan di sudut ruang makan. Di situlah ayahnya menikmati hidangan sendirian, sedangkan anak menantunya makan di meja makan. Viva juga dilarang apabila dia merengek ingin makan bersama kakeknya.

Air mata lelaki tua meleleh mengenang nasibnya diperlakukan demikian. Ketika itu dia teringat kampung halaman yang ditinggalkan. Dia terkenang mendiang isterinya. Lalu perlahan-lahan dia berbisik: “Miah… buruk benar layanan anak kita pada abang.”

Sejak itu, lelaki tua merasa tidak betah tinggal di situ. Setiap hari dia dihardik karena menumpahkan sisa makanan. Dia diperlakukan seperti budak. Pernah dia terpikir untuk lari dari situ, tetapi begitu dia teringat cucunya, dia pun menahan diri. Dia tidak mau melukai hati cucunya. Biarlah dia menahan diri dicaci dan dihina anak menantu.

Suatu malam, Viva terperanjat melihat kakeknya makan menggunakan piring kayu, begitu juga gelas minuman yang dibuat dari bambu. Dia mencoba mengingat-ingat, di manakah dia pernah melihat piring seperti itu. “Oh! Ya…” bisiknya. Viva teringat, semasa berkunjung ke rumah sahabat papanya dia melihat tuan rumah itu memberi makan kucing-kucing mereka menggunakan piring yang sama!

“Tak akan ada lagi yang pecah, kalau tidak begitu, nanti habis piring dan mangkuk ibu,” kata Rina apabila anaknya bertanya.

Waktu terus berlalu. Walaupun makanan berserakan setiap kali waktu makan, tiada lagi piring atau gelas yang pecah. Apabila Viva memandang kakeknya yang sedang menyuap makanan, kedua-duanya hanya berbalas senyum.

Ditulis dalam Artikel | Bertanda: | Leave a Comment »

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM-BAGIAN II

Ditulis oleh Small Fingers di/pada April 11, 2008

DEFINISI ANAK MENURUT ISLAM

Kategori Anak Menurut Islam Berdasarkan kedudukan hukumnya :

1.   BALIGH/DEWASA

·       Datangnya haid pada anak  wanita

·       Datangnya mimpi  basah  pada anak laki-laki,

 

2.   PRA BALIGH/ANAK-ANAK

·       Sudah mendapatkan taklif (pembebanan) hukum syara HARUS mempertanggungjawabkan setiap ucapan, sikap, dan tindakan yang mereka lakukan, baik di hadapan Allah maupun di hadapan aparat hukum di dunia.

HAK ANAK DALAM ISLAM

1.     Hak untuk hidup

·       Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya kepada Nabi Muhammad saw: “Ya Rasulullah, apakah hak anakkku dariku?” Nabi menjawab:”Engkau baguskan nama dan pendidikannya, kemudian engkau tempatkan ia di tampat yang baik.”

·       Sabda Rasulullah saw yang lain: “Baguskanlah namamu, karena dengan nama itu kamu akan dipanggil pada hari kiamat nanti.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

·       Nama anak adalah penting, karena nama dapat menunjukkan identitas keluarga, bangsa, bahkan aqidah. Ngatinem sudah pasti orang Jawa, Simorangkir jelas dari keluarga Batak, Cecep tentu dari keluarga Sunda dan Alhabsyi menunjukkan keluarga Arab.

·       Islam menganjurkan agar orangtua memberikan nama anak yang menunjukkan identitas Islam, suatu identitas yang melintasi batas-batas rasial, geografis, etnis, dan kekerabatan. Selain itu nama juga akan berpengaruh pada konsep diri seseorang.

 

2.     Hak penyusuan dan pengasuhan (hadlonah)

“Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin

menyempurnakan penyusuan. (QS Al Baqoroh 233)

o    Penelitian medis dan psikologis menyatakan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi pertumbuhan anak agar tumbuh sehat secara fisik dan psikis.

o    Selama masa penyusuan anak mendapatkan dua hal yang sangat berarti bagi pertumbuhan fisik dan nalurinya. Yang pertama: anak mendapatkan makanan berkualitas prima yang tiada bandingannya. ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan anak untuk pertumbuhannya, sekaligus mengandung antibodi yang membuat anak tahan terhadap serangan penyakit.

o    Yang kedua : anak mendapatkan dekapan kehangatan, kasih sayang dan ketentraman yang kelak akan mempengaruhi suasana kejiwaannya di masa mendatang. Perasaan mesra, hangat, dan penuh cinta kasih yang dialami anak ketika menyusu pada ibunya akan menumbuhkan rasa kasih sayang yang tinggi kepada ibunya.\

o    Islam pun telah menetapkkan bahwa orang yang lebih berhak terhadap pengasuhan ini adalah orang yang paling dekat kekerabatannya dan paling terampil (ahli) dalam pengasuhan.

o    Hadist yang diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib dari kakeknya bahwa Rasulullah saw pernah ditemui seorang wanita, ia berkata:”Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku dulu dikandung dalam perutku, susuku sebagai pemberinya minum dan pangkuanku menjadi buaiannya. Sementara ayahnya telah menceraikanku, tetapi ia hendak mengambilnya dariku.”Kemudian Rasulullah bersabda:”Engkau lebih berhak kepadanya selama engkau belum menikah”

 

3.     Hak penyusuan dan pengasuhan (hadlonah)

o    Islam menetapkan bahwa pihak wanita (ibu) lebih utama dalam pengasuhan

o    Fuqoha menetapkan urutan orang-orang yang bertanggung jawab terhadap pengasuhan adalah:

§  Ibu, nenek dari pihak ibu dan seterusnya jalur ke atas (jika masih hidup). Dalam hal ini didahulukan yang paling dekat hubungannya dengan anak.

§  Ayah, nenek dari ayah dan seterusnya jalur ke atas (jika masih hidup), kakek, ibunya kakek dan seterusnya jalur ke atas, kakeknya ayah dan para ibunya.

§  Saudara perempuan, diutamakan yang seibu seayah, baru seayah, kemudian anak-anak mereka.

§  Saudara laki-laki, diutamakan yang seibu seayah, baru seayah, kemudian anak-anak mereka.

§  Saudara perempuan ibu (kholah)

§  Saudara perempuan ayah (‘ammah)

§  Saudara laki-laki ayah (paman) yang seibu seayah, dan seayah saja.

§  Saudara perempuan nenek dari ibu

§  Saudara perempuan nenek dari ayah

§  Saudara perempuan kakek dari ayah

o    Apabila semua pihak dari kalangan ini tidak mampu, maka negara berkewajiban untuk memberikan pengasuhan anak ini ke pihak lainnya yang mampu dan dapat di percaya.

 

4.     Hak mendapatkan kasih sayang

o   Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk menyangi keluarga, termasuk anak di dalamnya. Ini berarti Beliau saw mengajarkan kepada kita untuk memenuhi hak anak terhadap kasih sayang. Sabda Rasulullah saw:”Orang yang paling baik di antara kamu adalah yang paling penyayang kepada keluarganya.”

o   Rasulullah mengajarkan untuk mengungkapkan kasih sayang tidak hanya secara verbal, tetapi juga dengan perbuatan. Pada suatu hari Umar menemukan beliau saw merangkak di atas tanah, sementara dua orang anak kecil berada di atas punggungnya. Umar berkata:”Hai anak, alangkah baiknya rupa tungganganmu itu.” Yang ditunggangi menjawab:”Alangkah baiknya rupa para penunggangnya”. Betapa indah susasana penuh kasih sayang antara Rasul saw dengan cucu-cucu beliau.

o   Seorang ahli (Dorothy Law Nolte) berujar:”Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.” Bila orang tua gagal mengungkapkan rasa sayang pada anak-anaknya, anak-anak tersebut tak akan mampu menyatakan sayangnya kepada orang lain.

 

5.     Hak mendapatkan perlindungan dan nafkah dalam keluarga

Firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 233:

Artinya;”… Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dangan cara yang ma’ruf…”

Kemudian firman Allah dalam surah Ath – Thalaq ayat 6:
Artinya:”Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu…”

Sebagai pemimpin dalam keluarga, seorang ayah tentu bertanggungjawab atas keselamatan anggota keluarganya, termasuk anaknya. Ia akan melindungi anaknya dari hal-hal yang membahayakan anaknya baik fisiknya maupun psikisnya. Demikian juga ia berkewajiban memberi nafkah berupa pangan, sandang, dan tempat tinggal kepada anaknya.

Apabila kepala keluarga tidak dapat mencukupi nafkah keluarganya, atau ayah telah meninggal dunia, maka wali dari anak (diantaranya paman dari ayah, saudara laki-laki, dan kakek) diberi kewajiban mencukupi nafkah keluarga tersebut. Apabila jalur kerabat tidak ada yang bisa mencukupi nafkah anak, maka negaralah yang berkewajiban memberi nafkah kepada anak. Negara menyalurkan zakat atau sumber keuangan lain yang hak kepada keluarga yang tidak mampu. Bagaimanapun keadaannya, tidak pernah seorang anak harus menafkahi dirinya sendiri.

6.     Hak pendidikan dalam keluarga

 QS At-Tahrim ayat 6:

Artinya:”Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”

Rasulullah juga mengajarkan betapa besarnya tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak. Sabdanya saw:”Tidaklah seorang anak yang lahir itu kecuali dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.”(HR Muslim).

Anak pertama kali mendapatkan hak pendidikannya di keluarga, sebelum ia mendapatkan pendidikan di sekolah.

Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama antara ibu dan ayah, sehingga diperlukan pasangan yang seaqidah, dan sepemahaman dalam pendidikan anak. Jika tidak demikian tentunya sulit mencapai tujuan pendidikan anak dalam keluarga.

Anak pertama kali mendapatkan pengajaran nilai-nilai tauhid dari kedua orang tuanya, demikian juga mengenai ajaran-ajaran Islam yang lain. Anak mendapatkan pendidikan yang lebih banyak berupa contoh (teladan) dari kedua orang tuanya, di samping pendidikan dalam bentuk lisan, pembiasaan dan pemberian sanksi.

 

7.     Hak mendapatkan kebutuhan pokok sebagai warga Negara

o   Sebagai warga negara, anak juga mendapatkan haknya akan kebutuhan pokok yang disediakan secara massal oleh negara kepada semua warga negara. Kebutuhan pokok yang disediakan secara massal oleh negara meliputi: pendidikan di sekolah, pelayanan kesehatan, dan keamanan.

o   Pelayanan massal ini merupakan pelaksanaan kewajiban negara terhadap penguasa kepada rakyatnya, seperti sabda Rasulullah saw:

o   “Seorang imam (pemimpin) adalah bagaikan penggembala, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.”(HR Ahmad, Syaikhan, Tirmidzi, Abu Dawud, dari Ibnu Umar)

o   Apabila hak-hak anak seperti yang disebutkan di atas dipenuhi maka anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkualitas: menjadi orang bertaqwa yang mampu mengendalikan hawa nafsunya sesuai perintah dan larangan Allah serta mampu mengelola kehidupan dunia dengan ilmu dan ketrampilannya. Kebutuhan fisiknya terpenuhi: kebutuhan gizinya terpenuhi, kebutuhan sandang dan perumahan yang memenuhi syarat kesehatan terpenuhi, dan apabila ia sakit tidak ada hambatan baginya untuk mendapatkan pengobatan. Demikian pula ia tumbuh dalam suasana penuh kasih sayang, tentram dan aman. Dalam kondisi fisik dan psikis yang baik ia bisa melewati proses pendidikan sesuai fase perkembangannya di dalam keluarga, juga pendidikannya di sekolah secara optimal. Dengan demikian ia bisa menguasai dengan baik tsaqofah Islam, ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan yang diajarkan di sekolah untuk bekal kehidupannya kemudian hari.

Ditulis dalam Artikel | 1 Komentar »

Refleksi Alam Terkembang Menjadi Guru

Ditulis oleh Small Fingers di/pada Maret 12, 2008

anak-disawah.jpgBumi nusantara dari Sabang sampai Merauke begitu indah dan kaya dengan berbagai sumber daya alam. Setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri dan memiliki daya tarik yang membuat banyak bangsa berupaya untuk memiliki dan menguasai segala potensi yang ada di Bumi pertiwi yang kita cintai dan banggakan. Keindahan alam dan kekayaan yang terkandung didalamnya membentuk budaya dan peradaban sepanjang masa mengalami evolusi dan bahkan saat ini dari budaya yang sarat dengan nilai-nilai moral yang luhur berubah menjadi revolusi pergeseran nilai budi pekerti yang luhur milik bangsa ini menjadi budaya arogansi, meniru,anarkis, melacur diberbagai bidang dan banyak hal lagi dari bangsa ini sudah jauh dari karakter dasar bangsa yang sesungguhnya.

Negara agraris yang sempat berjaya dengan swasembada pangannya dapat dicetus dan didobrak oleh para pemimpin yang terbentuk karakter dirinya (character building) dari alam pedesaan yang terdiri dari daerah pertanian,perkebunan, nelayan dan daerah di seluruh hamparan negeri ini hidup dari pengelolaan sumber daya alam. Para pemimpin kita mulai dari zaman Maha Patih Gajah Mada di Kerajaan Majapahit karena begitu cintanya dengan alam nusantara ini bersumpah dan mewujudkan obsesinya menjadikan negeri kita ini Negara yang besar bahkan diakui dunia kejayaanya menguasai sampai wilayah Asia Tenggara. Bung Karno dan para tokoh lainnya dalam merintis kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan membuktikan pula bangsa ini memiliki peran yang begitu besar di kancah politik Internasional. Ide brillian yang mereka cetuskan bersumber inspirasinya dari alam nusantara yang indah dan kaya ini memiliki budaya dan peradaban yang bernilai luhur hingga bangsa ini dapat berdiri kokoh hingga saat ini.

Alam terkembang menjadi guru motivasi mereka mengantarkan kita bangsa penerus ini dapat menikmati alam kemerdekaan yang dapat kita rasakan walaupun belum kemerdekaan yang hakiki, karena masih banyak anak negeri ini hidup dalam penjajahan kemiskinan dan kebodohan. Para pemimpin kita banyak melupakan guru mereka yaitu alam terkembang ini. Mereka larut dalam pergeseran nilai moral yang luhur untuk menjaga keseimbangan alam ini malah menjadi bangsa predator yang serakah memakan segala yang ada pada alam ini tanpa mempedulikan keseimbangan satu sama lain. Bahkan yang lebih parah lagi menjadi perusak alam, kufur atas nikmat anugerah Tuhan keberkahan negeri ini hilang dengan bencana dimana-mana sebagai ujian serta musibah bagi bangsa yang sarat dengan kehidupan yang religius.

Keterpurukan negeri ini begitu dalam dan multidimensi sangat terasa, bahkan bangsa ini seperti sudah kebal dengan keadaan yang sepertinya dalam lingkaran setan tanpa ada jalan keluar untuk lepas dari keterpurukan tersebut. Ibu pertiwi menangis melihat anak negeri jiwa dan raganya porak poranda. Narkoba merusak mereka dengan tanpa melihat status sosial dan umur, belenggu kapitalis yang membentuk karakter bangsa ini menjadi egois dan materialistis membiarkan anak-anak balita menjadi gembel penerus dan jadi sasaran empuk tangan-tangan jahanam pengedar narkoba karena orang tua mereka tidak dapat berbuat apa-apa dalam kebodohan dan kemiskinan. Kesempatan pemerataan dalam pendayagunaan secara baik sumberdaya alam negeri ini tidak pernah mereka dapatkan.

Para pemimpin dan cerdik pandai negeri ini sibuk dan larut dengan perang pemikiran ego ambisi pribadi yang tak kunjung habis, sehingga pada akhirnya mereka terjajah dengan kebodohan yang tidak pernah mereka sadari. Ide dan terobosan yang tepat sasaran pun bagi kepentingan masyarakat tidak dapat mereka lakukan. Jika ujung tombak negeri ini yang terdiri dari politikus, pendidik, alim ulama dan orang-orang yang sangat diharapkan untuk membesarkan bangsa ini telah carut marut, akan kita apakan dan bagaimana nasib bangsa ini kedepan? Mari kita napak tilas kembali bagaimana pemimpin kita zaman dulu dengan segala keterbatasan pendidikan dan alat informasi yang sangat jauh dibandingkan dengan era saat ini, namun dengan bersahaja mereka dapat merebut kejayaan bangsa ini dengan perjuangan yang murni dengan budi pekerti luhur dengan inspirasi mereka Alam terkembang nusantara ini dapat dipertahankan. Seorang Bung Hatta dan Putra Minangkabau serta daerah lain di nusantara ini zaman dahulu masa kecil mereka terbentuk dengan pola pendidikan alam yang sangat sederhana sekali dengan fase pendidikan sebagai berikut:

1. Kecil di Surau/Langgar

Dalam usia anak dari 4-12 tahun anak diajarkan kehidupan beragama sesuai dengan kapasitas mereka diajarkan bagaimana menjadi hamba Tuhan yang taat mensyukuri setiap nikmat yang didapat dan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala yang menjadi larangan-Nya dengan sebab akibat yang diajarkan oleh Guru mereka secara alamiah dan Ilmiah sesuai dengan pola fikir anak-anak. Dalam masa ini pula anak dididik tahu diri bagaimana membalas budi kepada orang tua dengan berbakti membantu orang tua dan guru dan yang terpenting bersyukur atas nikmat Tuhan yang menciptakan alam yang indah sungai jernih tempat mandi dan mengail ikan,merekapun mengembala ternak dan mengurusi ladang sawah dengan bergotong royong berkelompok. Makna dari kegiatan tambahan ini adalah aplikasi sederhana dari ilmu budi pekerti yang mereka gali dari mengaji Qur”an di surau. Tertanamlah pada anak yang mendapatkan pelajaran dengan pola ini rasa taat kepada Sang Khalik, Bakti kepada orang tua dan Guru serta tertanam rasa persahabatan dan persaudaraan yang tinggi serta berbagi kasih kepada sesama pada diri mereka satu sama lain. Selain dari hikmah diatas dalam fase ini pula anak ditanamkan oleh sang Kiyai nilai-nilai perjuangan yang heroik dari tokoh- tokoh Nabi dan Rasul serta sejarah kehidupan para kaum sholihin Wali Allah. Rasa kemandirian anak ditempa pula dalam masa belajar di Surau ini karena mereka sudah berpisah tidur dari rumah orang tua mereka.

2. Remaja duduk di Lapau/Warung Kopi

Setelah mereka menamatkan proses belajar dasar di Surau mulailah mereka pada fase belajar tahap lanjutan usia 13-18 tahun dengan bekal dasar Agama yang cukup dan pelajaran setingkat SD/SR mereka mulai melihat kehidupan alam berpikir yang akil baligh /dewasa bergaul dengan berbagai kelompok yang juga terdapat didalamnya ragam karakter manusia dengan sifat baik dan buruk mereka lihat. Proses pembelajaran ini dapat mereka lihat dengan pola pergaulan pada masa itu orang berinteraksi dan sosialisasi di Lapau/warung kopi. Sambil mengisi waktu senggang anak usia ini mulai duduk di Warung kopi sambil menikmati makan minum banyak hal pembelajaran yang mereka dapat dengan membahas berbagai perkembangan informasi yang ada tentang ragam kehidupan ini. Proses menyaring informasi dan menilai pada diri anak mulai tampak mana yang baik dan mana yang salah. Proses ini sangat menentukan bagi pribadi sang anak apakah dia akan menjadi seorang yang matang dan dewasa serta memiliki potensi untuk menjadi orang besar akan sangat nampak disini. Bagi yang matang dapat menjadi pelobi, mediator, dan bahkan politikus handal. Untuk mencapai tingkatan berhasil ini anak harus pergi merantau mengasah kepiawaian bergaul, menambah ilmu dan pengalamannya.

3. Dewasa pergi Merantau/Hijrah

Fase ini adalah proses pembelajaran bagi anak yang sudah dewasa secara terus menerus sampai akhir hayatnya. Dalam proses ini pencarian jati diri prestasi hidup yang dicapai baik secara ilmu maupun pengalaman dan eksistensi diri sangat menjadi tolak ukur berhasil atau tidak pribadi seseorang. Bekal kematangan dari tahapan belajar sebelumnya sangat menentukan pribadi seseorang akan bermanfaat bagi keluarganya, orang lain dan lingkungan sekitar tempat ia berpijak. Skala pembelajaran alam terkem bang dalam fase ini sangat luas sesuai dengan jauh dan luas nya tempat pribadi merantau/hijrah.

Sejarah membuktikan pola pendidikan klasik ini banyak mencetak tokoh-tokoh pemimpin Nasional yang mempunyai andil besar dalam berbagai bidang mewakili negeri ini dalam skala Internasional. Ini merupakan suatu bukti bahwa spirit sekolah alam ini dapat mencetak pribadi yang berbudi pekerti luhur dengan Agama sebagai benteng diri dari perbuatan yang merusak alam dan Ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mengelola alam ini untuk menjadi bermanfaat bagi umat manusia.

Sebagai penutup dari artikel sederhana ini marilah wahai para pendidik dan pelaku dunia pendidikan serta pemerintah sebagai regulator mari kita bahu membahu dengan tidak saling adu ilmu, adu konsep,dan persaingan tidak sehat yang hanya akan membelenggu diri kita dalam jajahan kebodohan yang kita ciptakan sendiri. Mari kita kibarkan Merah Putih yang tercabik-cabik dibidang pendidikan dengan banyaknya tangis anak bangsa karena harus putus sekolah tidak mampu membayar SPP ditengah hingar bingar badut-badut politik yang menjual Program pendidikan gratis dengan banyaknya sunatan massal dana BOS. Mari kita cetak anak bangsa yang dapat merebut kembali supremasi kejayaan bangsa yang telah hilang. Jangan kita jajah anak bangsa ini dengan biaya pendidikan yang mencekik leher orang tua mereka yang mana pendapatan mereka tidak sepadan dengan biaya sekolah anaknya.Jangan kita biarkan anak buruh kasar, tukang sayur, dan masyarakat marjinal yang jenius itu turun ke jalan menjadi pangemis, tukang semir sepatu, bahkan menjadi terkaman tangan-tangan jahanam penjualan wanita bawah umur. Jangan kita biarkan Arwah pendiri negeri dan bangsa yang besar ini menangis dan mengutuk melihat pergeseran nilai garis perjuangan bangsa ini jauh dari yang mereka canangkan. Cukup Nagabonar di film saja yang menangis melihat patung Jendral Sudirman memberi hormat sepanjang hari kepada anak bangsanya yang tidak semua dari mereka pantas dihormati.

Kalau bukan kita yang harus turun tangan dengan menyelamatkan bangsa ini lewat media pendidikan siapa lagi yang akan berjuang? Ingat Allah tidak akan merubah nasib satu kaum kalaulah bukan kaum itu sendiri yang akan merubah.

Pekerjaan rumah yang sangat berat bagi kita semua tapi lebih baik berupaya daripada tidak sama sekali. Lebih baik mati kalau jadi pecundang daripada hidup tidak memberi manfaat.“Selamatkan Anak-anak untuk selamatkan Bangsa” Bangunlah Jiwanya Bangunlah Raganya untuk Indonesia Raya.

Teriring Salam dan Doa Untuk Seniorku seperjuangan:

  1. Mas Dik Doank ( Kandang Jurang Doank Ciputat Banten)
  2. Bang Lendo Novo ( Sekolah Alam Ciganjur Jakarta)
  3. Bapak Nana Suparna ( SDIT Arridho Cakung Jakarta

 

aulia-j-samad.jpgAulia J Samad ( Relawan TPA Alam Arrahman Pandau Jaya Kampar Riau)

Ditulis dalam Artikel | 1 Komentar »

PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM-BAGIAN I

Ditulis oleh Small Fingers di/pada Maret 11, 2008

Bersama : Wirianingsih

Bangkok, Januari 2008

Apabila manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, atau anak shaleh yang mendo’akannya.” (HR. Muslim, dari Abu Hurairah)

PERANAN KELUARGA DALAM ISLAM

keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupanya (usia pra-sekolah)

Keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.

ENAM TAHUN PERTAMA

  1. Kasih sayang dari pihak kedua orangtua, terutama ibu PENTING Agar anak belajar mencintai orang lain
  2. Membiasakan anak berdisiplin mulai dari bulan-bulan pertama dari awal kehidupannya MISALNYA membiasakan anak untuk menyusu dan buang hajat pada waktu-waktu tertentu dan tetap
  3. Jadi teladan yang baik bagi anak dari permulaan kehidupannya.
  4. Biasakan dengan etiket umum yang mesti dilakukan dalam pergaulan MISALNYA berdoa sebelum makan, tidak menghisap jempol, tidak memakai pakaian atau celana yang pendek dll

USIA SETELAH ENAM TAHUN

  1. Kenalkan Allah dengan cara yang sederhana sesuai dengan tingkat pemikirannya
  2. Jelaskan tentang hukum yang jelas dan tentang halal-haram MISALNYA tentang kewajiban menutup aurat, berwudhu, shalat, mencuri dan melihat kepada yang diharamkan
  3. Ajarkan dan biasakan membaca Al Qur’an dengan benar
  4. Ajarkan tentang hak2 orang tua
  5. Kenalkan tokoh2 teladan (sahabat dll)
  6. Ajarkan tentang norma2 yang berlaku dalam masyarakat
  7. Kembangkan rasa percaya diri & tanggung jawab dalam diri anak

MASA REMAJA

  1. Perlakukan anak sebagai orang dewasa
  2. Ajarkan kepada anak hukum-hukum akil baligh dan ceritakan kepadanya kisah-kisah yang dapat mengembangkan dalam dirinya sikap takwa dan menjauhkan diri dari hal yang haram.
  3. Berikan dorongan untuk ikut serta melaksanakan tugas-tugas rumah tangga, seperti melakukan pekerjaan yang membuatnya merasa bahwa dia sudah besar.
  4. Mengawasi dan menyibukkan waktunya dengan kegiatan yang bermanfaat
  5. Carikan teman yang baik.

KESALAHAN DALAM PENGASUHAN ANAK

  1. Ucapan pendidik tidak sesuai dengan perbuatan ( “Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash Shaff : 2-3).)
  2. Kedua orangtua tidak sepakat atas cara tertentu dalam pendidikan anak.
  3. Membiarkan anak jadi korban televisi
  4. Menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak kepada pembantu atau pengasuh

…….(BERSAMBUNG)

 

 

Ditulis dalam Artikel | Leave a Comment »

Belajar Dari Alam

Ditulis oleh Small Fingers di/pada Maret 8, 2008

Belajar Dari Alam

Mita Zoelandari

belajar-dari-alam1.jpgDari seekor semut anak dapat belajar banyak hal sekaligus. Tak hanya soal biologi dan ilmu serangga, tapi juga ilmu sosial seperti kerjasama dan gotong royong. Mengajak anak menikmati dan mengamati alam dapat menjadi ritual yang menyehatkan, menyenangkan, dan menambah pengetahuan mereka. Kebersamaan orangtua dan anak dapat dibangun saat berjalan-jalan di taman. Bersamaan dengan itu orangtua dapat membahas dan mengkaitkan banyak hal dengan benda-benda yang ada di taman, seperti bunga, rumput, pohon, serangga, burung, kolam, sungai, tong sampah, dan lainnya.

Menurut Winarini Wilman, PhD, psikolog dari UI, usia dua tahun merupakan fase pra-operasional anak untuk dapat memahami simbol, hubungan sebab akibat, bagaimana berempati dengan lingkungan, dan kesadaran kemampuan berpikir. Secara kognitif anak sudah bisa belajar apa pun dan menerima informasi secara konkret, termasuk belajar dari fenomena alam atau lingkungan sekitar.

Catur Nurrochman Oktavian, Kepala Sekolah sub preschool Sekolah Alam Ciganjur, Jakarta Selatan, memaparkan, konsep belajar dari alam adalah mengamati fenomena yang terjadi secara nyata di lingkungan. Dan juga memanfaatkan apa yang tersedia di alam sebagai media belajar. Pada usia balita, anak dapat mulai diperkenalkan konsep berhitung. Misalnya, saat bermain bioskopbioskopan, anak diminta mengumpulkan 10 buah batu untuk ditukarkan satu tiket. Atau anak diminta menghitung jumlah tanaman sesuai dengan klasi.kasi jenisnya. “Melalui media alam, anak belajar konsep berhitung terlebih dulu dengan menjumlahkan, lalu baru belajar mengenal angka dan bilangan,” ujarnya.

Belajar melalui pengalaman dan fenomena alam akan membuat kemampuan berpikir anak kian terangsang. Anak membayangkan kembali apa yang dilihatnya lalu mempertanyakannya. Misalnya, ketika diajak ke kebun binatang anak akan mengamati polah laku binatang, rasa ingin tahu anak terpancing, dan kemudian bertanya, ”Ma, kenapa kuda nil senang bermain air?” Wina menyarankan agar orangtua memiliki pengetahuan yang cukup juga mengenai fenomena alam sehingga dapat memberikan jawaban yang tepat. Jika belum dapat menjawab, coba cari jawabannya bersama si kecil.

Segala keanekaragaman dan bahan pembentuk alam tidak dapat digantikan dengan bahan buatan manusia seperti bunga plastik. Anak tidak dapat menghentikan sensor momen mereka ketika melihat fenomena alam seperti kilauan sinar matahari menembus dedaunan, titik air di daun saat pagi hari (embun), suara dan gerakan pohon ketika ditiup angin, beragam warna menempel pada sayap kupu-kupu atau bereksperimen dengan air. Kelihatannya mungkin sepele tapi tidak bagi anak yang menganggap itu hal baru dan ajaib.

‘Keanehan’ ini dapat mendorong anak lebih semangat mengenal alam. Maka, berikan anak stimulasi yang berbeda, misalnya jika minggu ini mengeksplorasi taman dekat rumah, pekan depannya menjelajah kebun binatang. Sebuah studi menunjukkan anak yang terbiasa bereksperimen melalui alam berkemampuan lebih cepat mengingat kembali informasi dan kreatif saat memecahkan masalah.

Cara Mengenalkan Alam
Wina mengatakan, ketertarikan anak tergantung pada bagaimana cara orangtua mengenalkannya pada alam. Diawali dengan mengajak anak berjalan di taman atau kebun binatang, tunjukkan beragam hewan, bunga atau apa yang ada di sana. Pada usia dua tahun, anak pun lebih mudah menerima informasi karena melihat langsung dibanding melihatnya di buku. Atau saat anak mempelajari tanaman jeruk, coba rangsang indera penglihatan, perabaan, dan penciuman. Seperti mencium wangi daun dan buah Jeruk serta mengecap rasa jeruk.

Hal yang tidak dapat anak pelajari di dalam ruangan, dapat anak dapatkan di luar ruangan. Anak belajar membuat kesimpulan tidak hanya berdasarkan informasi yang diterima dari guru. Alam kaya akan pengetahuan sehingga anak dapat menguji apa yang diterimanya di kelas. Terdapat tiga tahapan yang dapat dilakukan anak untuk memudahkan masuknya informasi, yaitu mendengar, menulis atau menggambar lalu melihat dan melakukan percobaan sendiri. Misalnya, belajar tentang tanaman pisang, anak bisa mengeksplorasi batang misal permukaan dan bentuk batang , buah atau daunnya. Kegiatan ini dapat dilakukan mulai umur 4 sampai 12 tahun.

Seiring perkembangannya, ajak anak melakukan observasi di lapangan misalnya mengamati, menyentuh atau meraba dan menganalisa. Misalnya, belajar mengenal bagian-bagian dari tumbuhan, misalnya daun, akar, batang, kelopak, dan sebagainya. Tak hanya itu, paparkan pada anak masing-masing fungsinya dan bentuknya yang beragam sehingga anak belajar mengenal apa yang ada di alam melalui semua inderanya. Anak punya cara yang unik dan eksperimental untuk mengenal dunia sebagai tempat indah, misterius dan ajaib. Sehingga lingkungan alam bisa berkaitan langsung dengan perkembangan anak dan caranya dengan perkembangan anak dan caranya mengeksplorasi sesuatu. Tumbuhan yang tumbuh di tanah, pasir dan air, merupakan sesuatu yang nyata dan bukan bohongan. Anak bisa belajar menanam pohon di tanah liat, tanah berpasir atau tanah dengan pupuk dan mengamati perkembangan pohon tersebut sehingga timbul kesimpulan, tanah mana yang cocok untuk menanam tumbuhan. Alam membuat anak berpikir lebih kreatif dengan mencoba sesuatu yang berbeda-beda.

Semakin kompleks dan beragamnya hal yang ditawarkan alam, maka anak bisa semakin tertantang dan lebih kompleks lagi mempelajarinya. Seperti, anak tertarik pada tumbuhan karena tumbuhan memiliki campuran warna, bentuk, tekstur, keharuman dan kelembutan yang membuat anak nyaman, misal bunga-bungaan. Hal ini juga membantu kesehatan emosinya. Saat mempelajari alam sebaiknya anak didampingi orang dewasa, misalnya orangtua atau guru. Tak cuma itu, orang dewasa tersebut juga diharapkan memiliki pandangan dan tindakan yang positif terhadap alam. Sehingga anak akan termotivasi untuk mencontoh, misalnya ketika Anda dan si kecil piknik bersama di Kebun Raya. Ketika selesai makan buanglah sampah pada tempatnya. “Sekali-kali ajak anak ke sungai yang dipenuhi sampah dan sungai yang bersih, minta dia menyimpulkan. Beritahukan juga, tersumbatnya aliran sungai dapat mengakibatkan banjir,” kata Catur.

Saat anak belajar di alam terbuka, kecelakaan mungkin bisa terjadi. Oleh sebab itu Wina mengingatkan, agar orangtua memperhitungkan kondisi medan penjelajahan anak sesuai dengan perkembangan anak. Sebaiknya orangtua mengobservasi lingkungan dulu. Pastikan tidak ada binatang yang berbahaya, misalnya ular. Atau benda-benda yang dapat membahayakan anak seperti terlalu banyak kerikil, bebatuan atau beling. Agar anak nyaman, beri pakaian yang mendukung aktivitasnya yang disesuaikan dengan cuaca, jangan terlalu ketat, dan bahan yang menyerap keringat. Pilih sepatu yang menutupi seluruh kaki dan nyaman dipakai. Sebelum berangkat menjelajah, ingatkan agar anak tidak sembarangan memegang atau memakan benda-benda di sekitarnya, karena ada daun atau bunga yang beracun.

Lingkungan luar ruangan ini juga penting bagi perkembangan pribadi anak, yaitu kemandirian. Anak belajar meningkatkan kewaspadaannya saat berkegiatan di alam terbuka. Mulanya Anda bisa membuntuti setiap gerak-geriknya. Namun, jika lingkungan sudah sangat dikenal dan anak dinilai mampu menjaga dirinya, Anda bisa melonggarkan pengawasan dengan mengamatinya. Catur mengamatinya. Catur berpendapat, salah satu kegiatan yang mewakili penjelajahan alam adalah Kegiatan outbound. Aktivitas ini menuntut keberanian anak, yaitu berani mengambil keputusan dan menghadapi risiko serta berdisiplin. “Cara lainnya orangtua juga bisa memberikan anak pengetahuan melalui . Film dokumenter atau buku, namun tetap dampingi dan beri penjelasan agar anak mengerti,” katanya.

Tujuan belajar dari alam agar anak belajar mengenal, dan menyayangi lingkungan sekitarnya dan ciptaan Tuhan lainnya. Misalnya, ketika anak belajar memelihara ikan hias banyak hal yang dapat dipelajari seperti mengapa ikan bisa berenang, dan berikan kasih sayang ketika memberi makan atau membersihkan akuarium. Anak juga akan belajar disiplin dengan memberi makan binatang kesayangannya tepat waktu. “Tumbuhkan rasa peduli terhadap mahkluk ciptaan Tuhan, diharapkan kelak anak akan ‘berguna’ bagi lingkungan ekosistem alam,” ujar Wina.

Menurut Randy White dan Vicki Stoecklin dalam artikelnya Children’s Outdoor Play and Learning Environments: Returning to Nature, pandangan anak terhadap alam berbeda dengan orang dewasa yang menganggap alam sebagai fasilitas. Anak mempelajari lingkungan alam sebagai stimulator dan bagian dari aktivitasnya. Selain itu, anak menilai lingkungan bukan berdasarkan keindahan melainkan bagaimana mereka dapat berinteraksi di dalamnya.

Hal-hal yang dapat diobservasi oleh anak di lingkungan alam, antara lain:

Air, buat permainan dengan air seperti bagaimana jika balon diisi air, atau jika air dituangkan pada wadah bentuk bulat, kotak, dan sebagainya.

Tumbuh-tumbuhan, seperti pohon, semak-semak, bunga, dan rerumputan.

Hewan, menjelaskan bentuk, perilaku, dan habitat hewan.

Pasir, coba buat campuran pasir dengan air. Lalu buatlah istana pasir atau bentuk lainnya.

Warna alam, tunjukkan warna daun yang serupa (hijau muda dan hijau tua) juga perbedaan warna (daun berwarna hijau dengan daun berwarna merah tua atau cokelat pada tumbuhan tertentu.

Memperlihatkan tempat yang membuat anak merasa nyaman dan dapat melihat pemandangan indah, seperti pergi ke puncak pass di Bogor atau berhiking ria di Gunung Bromo.

Struktur, peralatan dan material dapat berubah sewaktu-waktu atau tergantung imajinasi anak. Misalnya, saat belajar tentang kaktus, lakukan penelitian kecil-kecilan, kaktus yang diberi banyak air dengan kaktus yang jarang disiram.

Dalam artikel Interaction with Nature during the Middle Years: It’s Importance in Children’s Development & Nature’s Future, Cohen dan Horn-Wingerg, mengatakan, dalam psikologi evolusioner manusia terdapat istilah biophilia. Biophilia adalah kebutuhan biologis manusia berinteraksi dengan alam dan respon positif manusia secara genetis dengan alam.

Penelitian membuktikan sepanjang sejarah manusia lebih dari 99 persen manusia hidup intim dengan alam, yaitu mencari makanan di hutan. “Namun, umumnya program pendidikan sekolah alam, mengajarkan alam berdasarkan pandangan atau pendekatan orang dewasa bukan perspektif anak,” kata Cohen. Seharusnya anak belajar lebih banyak otodidak dibanding teori semata.

Alhasil jika konsep abstrak diajarkan pada anak usia terlalu dini seperti kerusakan hutan, atau lubang ozon di atmosfer. Anak akan bingung bahkan takut jika mendapat permasalahan di luar kemampuan kognitif, pemahaman dan kontrolnya. Kebalikan dari biophilia, ketakutan pada kehidupan alam dan masalah ekologi disebut dengan biophobia. Anak pun takut berhubungan dengan alam. Sebaiknya berikan anak penjelasan teori sesuai dengan kemampuan anak dan diimbangi dengan praktek. Ketika anak mengeksplorasi alam otomatis akan menimbulkan kecintaannnya pada alam.

 

Ditulis dalam Artikel | 2 Komentar »