Bumi nusantara dari Sabang sampai Merauke begitu indah dan kaya dengan berbagai sumber daya alam. Setiap daerah mempunyai ciri khas tersendiri dan memiliki daya tarik yang membuat banyak bangsa berupaya untuk memiliki dan menguasai segala potensi yang ada di Bumi pertiwi yang kita cintai dan banggakan. Keindahan alam dan kekayaan yang terkandung didalamnya membentuk budaya dan peradaban sepanjang masa mengalami evolusi dan bahkan saat ini dari budaya yang sarat dengan nilai-nilai moral yang luhur berubah menjadi revolusi pergeseran nilai budi pekerti yang luhur milik bangsa ini menjadi budaya arogansi, meniru,anarkis, melacur diberbagai bidang dan banyak hal lagi dari bangsa ini sudah jauh dari karakter dasar bangsa yang sesungguhnya.
Negara agraris yang sempat berjaya dengan swasembada pangannya dapat dicetus dan didobrak oleh para pemimpin yang terbentuk karakter dirinya (character building) dari alam pedesaan yang terdiri dari daerah pertanian,perkebunan, nelayan dan daerah di seluruh hamparan negeri ini hidup dari pengelolaan sumber daya alam. Para pemimpin kita mulai dari zaman Maha Patih Gajah Mada di Kerajaan Majapahit karena begitu cintanya dengan alam nusantara ini bersumpah dan mewujudkan obsesinya menjadikan negeri kita ini Negara yang besar bahkan diakui dunia kejayaanya menguasai sampai wilayah Asia Tenggara. Bung Karno dan para tokoh lainnya dalam merintis kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan membuktikan pula bangsa ini memiliki peran yang begitu besar di kancah politik Internasional. Ide brillian yang mereka cetuskan bersumber inspirasinya dari alam nusantara yang indah dan kaya ini memiliki budaya dan peradaban yang bernilai luhur hingga bangsa ini dapat berdiri kokoh hingga saat ini.
Alam terkembang menjadi guru motivasi mereka mengantarkan kita bangsa penerus ini dapat menikmati alam kemerdekaan yang dapat kita rasakan walaupun belum kemerdekaan yang hakiki, karena masih banyak anak negeri ini hidup dalam penjajahan kemiskinan dan kebodohan. Para pemimpin kita banyak melupakan guru mereka yaitu alam terkembang ini. Mereka larut dalam pergeseran nilai moral yang luhur untuk menjaga keseimbangan alam ini malah menjadi bangsa predator yang serakah memakan segala yang ada pada alam ini tanpa mempedulikan keseimbangan satu sama lain. Bahkan yang lebih parah lagi menjadi perusak alam, kufur atas nikmat anugerah Tuhan keberkahan negeri ini hilang dengan bencana dimana-mana sebagai ujian serta musibah bagi bangsa yang sarat dengan kehidupan yang religius.
Keterpurukan negeri ini begitu dalam dan multidimensi sangat terasa, bahkan bangsa ini seperti sudah kebal dengan keadaan yang sepertinya dalam lingkaran setan tanpa ada jalan keluar untuk lepas dari keterpurukan tersebut. Ibu pertiwi menangis melihat anak negeri jiwa dan raganya porak poranda. Narkoba merusak mereka dengan tanpa melihat status sosial dan umur, belenggu kapitalis yang membentuk karakter bangsa ini menjadi egois dan materialistis membiarkan anak-anak balita menjadi gembel penerus dan jadi sasaran empuk tangan-tangan jahanam pengedar narkoba karena orang tua mereka tidak dapat berbuat apa-apa dalam kebodohan dan kemiskinan. Kesempatan pemerataan dalam pendayagunaan secara baik sumberdaya alam negeri ini tidak pernah mereka dapatkan.
Para pemimpin dan cerdik pandai negeri ini sibuk dan larut dengan perang pemikiran ego ambisi pribadi yang tak kunjung habis, sehingga pada akhirnya mereka terjajah dengan kebodohan yang tidak pernah mereka sadari. Ide dan terobosan yang tepat sasaran pun bagi kepentingan masyarakat tidak dapat mereka lakukan. Jika ujung tombak negeri ini yang terdiri dari politikus, pendidik, alim ulama dan orang-orang yang sangat diharapkan untuk membesarkan bangsa ini telah carut marut, akan kita apakan dan bagaimana nasib bangsa ini kedepan? Mari kita napak tilas kembali bagaimana pemimpin kita zaman dulu dengan segala keterbatasan pendidikan dan alat informasi yang sangat jauh dibandingkan dengan era saat ini, namun dengan bersahaja mereka dapat merebut kejayaan bangsa ini dengan perjuangan yang murni dengan budi pekerti luhur dengan inspirasi mereka Alam terkembang nusantara ini dapat dipertahankan. Seorang Bung Hatta dan Putra Minangkabau serta daerah lain di nusantara ini zaman dahulu masa kecil mereka terbentuk dengan pola pendidikan alam yang sangat sederhana sekali dengan fase pendidikan sebagai berikut:
1. Kecil di Surau/Langgar
Dalam usia anak dari 4-12 tahun anak diajarkan kehidupan beragama sesuai dengan kapasitas mereka diajarkan bagaimana menjadi hamba Tuhan yang taat mensyukuri setiap nikmat yang didapat dan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi segala yang menjadi larangan-Nya dengan sebab akibat yang diajarkan oleh Guru mereka secara alamiah dan Ilmiah sesuai dengan pola fikir anak-anak. Dalam masa ini pula anak dididik tahu diri bagaimana membalas budi kepada orang tua dengan berbakti membantu orang tua dan guru dan yang terpenting bersyukur atas nikmat Tuhan yang menciptakan alam yang indah sungai jernih tempat mandi dan mengail ikan,merekapun mengembala ternak dan mengurusi ladang sawah dengan bergotong royong berkelompok. Makna dari kegiatan tambahan ini adalah aplikasi sederhana dari ilmu budi pekerti yang mereka gali dari mengaji Qur”an di surau. Tertanamlah pada anak yang mendapatkan pelajaran dengan pola ini rasa taat kepada Sang Khalik, Bakti kepada orang tua dan Guru serta tertanam rasa persahabatan dan persaudaraan yang tinggi serta berbagi kasih kepada sesama pada diri mereka satu sama lain. Selain dari hikmah diatas dalam fase ini pula anak ditanamkan oleh sang Kiyai nilai-nilai perjuangan yang heroik dari tokoh- tokoh Nabi dan Rasul serta sejarah kehidupan para kaum sholihin Wali Allah. Rasa kemandirian anak ditempa pula dalam masa belajar di Surau ini karena mereka sudah berpisah tidur dari rumah orang tua mereka.
2. Remaja duduk di Lapau/Warung Kopi
Setelah mereka menamatkan proses belajar dasar di Surau mulailah mereka pada fase belajar tahap lanjutan usia 13-18 tahun dengan bekal dasar Agama yang cukup dan pelajaran setingkat SD/SR mereka mulai melihat kehidupan alam berpikir yang akil baligh /dewasa bergaul dengan berbagai kelompok yang juga terdapat didalamnya ragam karakter manusia dengan sifat baik dan buruk mereka lihat. Proses pembelajaran ini dapat mereka lihat dengan pola pergaulan pada masa itu orang berinteraksi dan sosialisasi di Lapau/warung kopi. Sambil mengisi waktu senggang anak usia ini mulai duduk di Warung kopi sambil menikmati makan minum banyak hal pembelajaran yang mereka dapat dengan membahas berbagai perkembangan informasi yang ada tentang ragam kehidupan ini. Proses menyaring informasi dan menilai pada diri anak mulai tampak mana yang baik dan mana yang salah. Proses ini sangat menentukan bagi pribadi sang anak apakah dia akan menjadi seorang yang matang dan dewasa serta memiliki potensi untuk menjadi orang besar akan sangat nampak disini. Bagi yang matang dapat menjadi pelobi, mediator, dan bahkan politikus handal. Untuk mencapai tingkatan berhasil ini anak harus pergi merantau mengasah kepiawaian bergaul, menambah ilmu dan pengalamannya.
3. Dewasa pergi Merantau/Hijrah
Fase ini adalah proses pembelajaran bagi anak yang sudah dewasa secara terus menerus sampai akhir hayatnya. Dalam proses ini pencarian jati diri prestasi hidup yang dicapai baik secara ilmu maupun pengalaman dan eksistensi diri sangat menjadi tolak ukur berhasil atau tidak pribadi seseorang. Bekal kematangan dari tahapan belajar sebelumnya sangat menentukan pribadi seseorang akan bermanfaat bagi keluarganya, orang lain dan lingkungan sekitar tempat ia berpijak. Skala pembelajaran alam terkem bang dalam fase ini sangat luas sesuai dengan jauh dan luas nya tempat pribadi merantau/hijrah.
Sejarah membuktikan pola pendidikan klasik ini banyak mencetak tokoh-tokoh pemimpin Nasional yang mempunyai andil besar dalam berbagai bidang mewakili negeri ini dalam skala Internasional. Ini merupakan suatu bukti bahwa spirit sekolah alam ini dapat mencetak pribadi yang berbudi pekerti luhur dengan Agama sebagai benteng diri dari perbuatan yang merusak alam dan Ilmu pengetahuan sebagai alat untuk mengelola alam ini untuk menjadi bermanfaat bagi umat manusia.
Sebagai penutup dari artikel sederhana ini marilah wahai para pendidik dan pelaku dunia pendidikan serta pemerintah sebagai regulator mari kita bahu membahu dengan tidak saling adu ilmu, adu konsep,dan persaingan tidak sehat yang hanya akan membelenggu diri kita dalam jajahan kebodohan yang kita ciptakan sendiri. Mari kita kibarkan Merah Putih yang tercabik-cabik dibidang pendidikan dengan banyaknya tangis anak bangsa karena harus putus sekolah tidak mampu membayar SPP ditengah hingar bingar badut-badut politik yang menjual Program pendidikan gratis dengan banyaknya sunatan massal dana BOS. Mari kita cetak anak bangsa yang dapat merebut kembali supremasi kejayaan bangsa yang telah hilang. Jangan kita jajah anak bangsa ini dengan biaya pendidikan yang mencekik leher orang tua mereka yang mana pendapatan mereka tidak sepadan dengan biaya sekolah anaknya.Jangan kita biarkan anak buruh kasar, tukang sayur, dan masyarakat marjinal yang jenius itu turun ke jalan menjadi pangemis, tukang semir sepatu, bahkan menjadi terkaman tangan-tangan jahanam penjualan wanita bawah umur. Jangan kita biarkan Arwah pendiri negeri dan bangsa yang besar ini menangis dan mengutuk melihat pergeseran nilai garis perjuangan bangsa ini jauh dari yang mereka canangkan. Cukup Nagabonar di film saja yang menangis melihat patung Jendral Sudirman memberi hormat sepanjang hari kepada anak bangsanya yang tidak semua dari mereka pantas dihormati.
Kalau bukan kita yang harus turun tangan dengan menyelamatkan bangsa ini lewat media pendidikan siapa lagi yang akan berjuang? Ingat Allah tidak akan merubah nasib satu kaum kalaulah bukan kaum itu sendiri yang akan merubah.
Pekerjaan rumah yang sangat berat bagi kita semua tapi lebih baik berupaya daripada tidak sama sekali. Lebih baik mati kalau jadi pecundang daripada hidup tidak memberi manfaat.“Selamatkan Anak-anak untuk selamatkan Bangsa” Bangunlah Jiwanya Bangunlah Raganya untuk Indonesia Raya.
Teriring Salam dan Doa Untuk Seniorku seperjuangan:
- Mas Dik Doank ( Kandang Jurang Doank Ciputat Banten)
- Bang Lendo Novo ( Sekolah Alam Ciganjur Jakarta)
- Bapak Nana Suparna ( SDIT Arridho Cakung Jakarta
Aulia J Samad ( Relawan TPA Alam Arrahman Pandau Jaya Kampar Riau)